PELANGI DI MATA ELANG *3
Nayla sampai di Jembatan Tua Sungai Kaca Langit. Bisa dia lihat Erlangga sudah menunggunya disana. Melihat sosok Erlangga disana, jantung Nayla jadi berdetak 2x lebih kencang daripada sebelumnya. “Rileks Nayla, rileks.” Ujarnya kepada dirinya sendiri. Akhirnya dengan langkah perlahan, Nayla menghampiri Erlangga.
“ Hay, Ngga. Udah lama nunggunya?” Sapa Nayla sambil berbasa-basi.
“ Hay. Belum lama kok, Nay.” Jawab Erlangga santai, beda dengan Nayla yang benar-benar terlihat gugup. Nayla sendiri juga bingung kenapa dia jadi segugup itu. Setelah berbasa-basi sebentar, Erlangga pun memulai pembicaraan yang serius.
“ Mmm, Nay. Aku mau ungkapin sesuatu hal ke kamu.” Ujar Erlangga membuat Jantung Nayla yang tadi mulai stabil sekarang melonjak-lonjak lagi.
“ Mau ungkapin apa, Ngga?”
“ Nay, aku….aku…aku sayang sama kamu, Nay. Aku bahagia bisa kenal dan deket sama kamu. Kamu benar-benar pelangiku, Nay. Kamu bisa memberi warna-warna yang baru, warna-warna yang indah dalam hidup aku. Aku bener-bener bahagia ada di deket kamu.” Benar!!! Erlangga benar-benar menyatakan perasaannya. Nayla tersenyum, Nayla tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya itu, Nayla senang mendengar kalimat Erlangga barusan. Nayla baru akan menjawab, ketika Erlangga tiba-tiba melanjutkan kalimatnya.
“ Tapi….” Ujar Erlangga membuat Nayla berhenti menyunggingkan senyum manisnya.
“ Tapi apa, Ngga??” Tanya Nayla penasaran.
“ Tapi aku nggak bisa terus-terusan ada di samping kamu, Nay. Kita nggak bisa bersatu.”
Deg!!! Perkataan Erlangga barusan benar-benar melenyapkan senyum manis Nayla.
“ Lho kenapa? Kenapa bisa kaya gitu, Ngga??”
“ Aku harus pergi, Nayla. Waktu ku untuk bisa sama kamu udah habis.” Jawab Erlangga sambil menunduk.
“ Waktu? Habis?? Apa sih maksudnya??”
“ Aku..aku harus kembali ke cewekku, Nay.”
“ Apaaa??? Kamu udah punya cewek, Ngga???” Nayla kaget. Erlangga mengangguk lesu.
“ Terus buat apa kamu suka sama aku Erlangga??? Buat apa kamu ndeketin aku??” Nayla mulai emosi.
“ Buat melaksanakan amanatnya….Damar, Nay.”
“ DAMAR??!!” Pekik Nayla, dia benar-benar kaget.
“ Iya. Damar yang nyuruh aku untuk jagain kamu, Nay.”
“ Nggak! Nggak mungkin, bagaimana bisa? Kamu kan nggak kenal Damar, Erlangga!” Elak Nayla tak percaya.
“ Nay, waktu itu, beberapa bulan yang lalu, waktu aku lagi duduk di depan rumah temenku, di pinggir jalan, aku ngeliat ada cowok berseragam SMA ditabrak dari belakang oleh sebuah truk. Aku langsung lari ke arah cowok itu, hanya aku yang lari ke arahnya, karena kebetulan jalanan nggak begitu ramai, nggak ada orang-orang yang bergerumun di tepi jalan. Orang yang lalu lalang juga cuman ngliatin aja, nggak ada yang berhenti untuk ngebantu. Aku ngehampiri cowok itu, dia masih hidup, lalu dia....” Erlangga mengambil napas sebentar. Nayla menelan ludahnya. Mendengarkan dengan seksama cerita Erlangga.
“ Lalu dengan tersendat-sendat dia ngomong sama aku, aku masih ingat betul perkataannya waktu itu‘Siapa pun kamu, tolong bantu aku. Tolong jagain Nayla, pacarku. Tolong, karena aku udah janji akan selalu jagain dia. Tapi sekarang aku udah nggak bisa, jadi aku mohon, siapa pun kamu, tolong bantu aku jagain Naylaku’ Dan kemudian cowok itu meninggal.” Nayla menangis sesengukan tanpa sanggup berkata-kata mendengarkan cerita Erlangga. Ternyata Damar begitu sangat menyayanginya sampai-sampai di akhir hayatnya pun dia masih memikirkan Nayla. Dia masih memikirkan untuk menepati janjinya pada Nayla. Sampai-sampai dia menyuruh orang lain yang sama sekali tidak dia kenal untuk menjaga Nayla. Itu menjadi sebuah bukti betapa Damar menyayangi Nayla dengan sepenuh hatinya.
“ Aku sempat mengabaikan amanat dari cowok itu. Aku ngerasa itu konyol banget. Mana mungkin coba aku jagain pacar orang yang sama sekali nggak aku kenal, padahal aku sendiri udah punya pacar. Tapi lama-lama aku nggak tenang. Aku ngerasa berdosa. Akhirnya aku cari tau tentang cowok itu, aku cari tau semua tentang dia. Dan alhamdulillah aku bisa dapet semua informasi tentang dia yang ternyata bernama Damar, termasuk tentang kamu, Nayla, pacarnya. Abis aku dapet semua informasi tentang Damar, aku minta izin ke pacarku untuk ‘pergi’ dari dia, untuk dekat dengan cewek lain untuk sementara. Awalnya dia marah, dia nggak mengizinkan, tapi karena aku terus memohon sama dia, akhirnya dia mengizinkan, tapi dengan batas waktu 3bulan. Setelah 3bulan, aku harus kembali ke dia lagi.” Jelas Erlangga panjang lebar.
“ Dan hari ini batas waktu 3 bulanmu itu udah habis?” Tanya Nayla masih dengan tangisnya.
“ Bukan, batas waktunya udah habis dari 2 minggu yang lalu.”
“ Terus kenapa baru sekarang kamu mau pergi dari aku?”
“ Karena baru sekarang aku bisa menepati janjiku pada diriku sendiri.”
“ Janji? Janji apa?” Nayla mengeryitkan dahinya.
“ Aku pernah berjanji sama diriku sendiri, aku nggak akan pernah ninggalin kamu, sebelum aku menemukan seseorang yang akan jagain kamu setelah aku, Nayla.”
“ Hah?? Jadi maksud kamu, sekarang ini kamu udah…..” belum sempat Nayla melanjutkan, Erlangga sudah memotongnya.
“ Ya. Aku udah menemukan seseorang itu Nayla. Seseorang yang akan jagain kamu setelah aku dan Damar. Seseorang yang akan menyayangi kamu dengan tulus seperti yang Damar lakukan.” Jawab Erlangga sambil tersenyum.
“ Si..siapa, Ngga?” Tanya Nayla penasaran.
“ Berbaliklah. Dia ada di belakangmu.” Jawab Erlangga. Jantung Nayla berdebar kencang. Perlahan dia balikkan badannya. Dan…
“ DIMAS!!??? ”
Nayla terbelalak, dia sangat kaget mengetahui seseorang yang ada di belakangnya adalah Dimas, anak pembantu keluarga Damar.
“ Hay, Nayla.” Sapa Dimas lembut. Nayla hanya terdiam, masih tidak percaya dengan ini semua.
“ Dia yang akan menggantikan aku dan Damar, Nay.” Kata Erlangga.
“ Ddd…dimas?? Bagaimana bisa??” Tanya Nayla tak percaya.
“ Nayla, dari awal aku lihat kamu, aku udah langsung suka sama kamu, Nay. Kamu benar-benar indah di mataku. Tapi, waktu aku mau ndeketin kamu, ternyata Damar udah lebih dulu melakukan itu. Lalu aku putuskan untuk mundur saja daripada harus bersaing dengan Damar, anak majikan ibuku. Menurutku, melihatmu dari jauh saja sudah suatu kebahagiaan untukku, Nay.” Ungkap Dimas menjelaskan semuanya. “Aku memang mundur untuk mendekati kamu. Tapi bukan berati aku mundur untuk menyukai kamu Nay, sekalipun waktu itu aku tahu, kamu udah jadian sama Damar. Sakit memang, tapi aku tetep bertahan. Aku selalu memperhatikan kamu, Nay, kapan pun dan dimana pun. Itu sebabnya kenapa aku tau semua tentang kamu termasuk hal-hal yang kamu sama Damar lakuin. Aku yang selama ini menjadi ‘Damar’ Nay, aku yang selama ini menghantui kamu.” Ujar Dimas jujur membongkar semua rahasianya.
“ Hah?? Jadi parfum, capung dan Bunga Lily itu semua kerjaan kamu, Dim? D-R itu kamu?? Lagi-lagi Nayla terkaget. Bisa disebut hari ini adalah ‘The Shocking Days” bagi Nayla.
“ Iya D-R itu aku, Dimas Rahmawan.”
“ Gila! Apa maksud kamu nglakuin itu semua, hah??!” Emosi Nayla naik.
“ Nay, Aku hanya cemburu dengan Erlangga, Nay. Aku hanya nggak rela kalo kamu direbut lagi sama cowok lain. Aku nggak sanggup kalo harus nunggu lebih lama lagi untuk deket sama kamu. Dan aku menunjukkan itu semua dengan cara-cara Damar. Karena menurutku, dengan cara itu kamu akan berpikir kalau Damar nggak setuju kamu deket sama Erlangga dan akhirnya kamu bisa menjauhi Erlangga. Iya memang, aku tau aku salah, aku tau aku egois, tapi aku nggak punya cara lain Nayla, hanya cara itu yang aku punya. Maafin aku.” Dimas memohon, sampai-sampai berlutut di depan Nayla yang terlihat begitu kecewa padanya.
“ Nay, kemaren waktu aku mau nyusul kamu ke makam Damar, aku ketemu sama Dimas. Dimas ngajak aku untuk bicara empat mata. Dia menceritakan semuanya, Nay. Dia menceritakan bagaimana penantiannya yang sangat lama itu untuk nunggu kamu, Nay. Aku salut banget sama dia, Nay. Salut akan kesabarannya, salut akan kesetiaan serta ketulusannya menyayangi kamu. Dan itulah yang ngebuat aku yakin bahwa Dimas lah orang yang cocok untuk menjaga kamu setelahku, untuk menggantikan posisi Damar.” Timpal Erlangga. Nayla tersentuh dengan ucapan Erlangga tadi. Dia tidak menyangka bahwa Dimas sangat-sangat menyayanginya. Sampai-sampai sanggup untuk menunggunya bertahun-tahun. Nayla pun mengulurkan tangannya ke Dimas, mengajaknya bangun dari ‘berlututnya’.
“ Ya Dim, aku maafin kamu. Aku juga minta maaf ya sama kamu, karena selama ini aku nggak pernah menyadari kalau kamu suka sama aku. Maaf udah buat kamu nunggu untuk bertahun-tahun lamanya.” Ucap Nayla sambil terisak.
“ Nggak papa kok, Nay.” Jawab Dimas sambil tersenyum. “Sekarang aku katakan sama kamu, Nay. Aku sayang sama kamu, sayaaang banget. Bolehkah aku menggantikan posisi Damar di hatimu? Aku bersedia kok Nay bangunin kamu setiap jam 3 dan 5 pagi. Aku bersedia menyisir dan mengikatkan rambutmu kalau rambutmu berantakan. Aku juga bersedia untuk memotong kukumu kalau kukumu mulai panjang. Tapi apakah kamu bersedia, Nay??” Tanya Dimas dengan penuh harap. Nayla terharu mendengar kata demi kata yang Dimas lontarkan barusan.
“ Nggak!” jawab Nayla singkat, mematahkan harapan Dimas. “Aku nggak mau kalau kamu hanya meniru apa yang Damar lakukan. Aku pengen kamu lakuin hal-hal yang dari dalam diri kamu sendiri, bersedia?” tanya Nayla sambil senyum menantang Dimas. Dimas yang tadi sudah menunduk lesu pun bangkit kembali.
“ Sangat bersedia, Nay.” Ujar Dimas bersemangat. “Jadi aku boleh Nay jadi pacarmu?” tanyanya memastikan. Dan satu anggukan mantap dari Nayla pun Dimas dapatkan. Dimas langsung memeluk Nayla.
“ Makasih Nay, makasih. Aku bahagia banget.” Ujar Dimas sambil memeluk Nayla. Nayla menangis di pelukan ‘pacar barunya’ itu yang sudah lama menantinya itu. Erlangga pun ikut terharu melihat mereka. Walaupun cemburu itu sedikit terasa, namun dia bahagia melihat Nayla dan Dimas bahagia. Erlangga pun berjalan meninggalkan mereka yang sedang mengharu biru itu.
“ Selamat berbahagia Nayla. Semoga Dimas benar-benar bisa menggantikan posisiku untuk menjagamu dan menggantikan posisi Damar sebagai kekasihmu. Aku bahagia pernah mengenalmu. Sampai kapan pun kamu tetap Pelangiku, Pelangi di Mata Elang…..” Ucap Erlangga dalam hatinya seraya menyeka benda bening di sudut matanya.
----THE END----

