Pensil Dan Penghapus
Dunia ini sempit. Sangat sempit. Teramat sempit sampai terasa nyaris
menghimpit tubuhku. Aku memandangnya. Dia memandangku. Kukembangkan
telapak tanganku. Dia juga. Kutempelkan telapak tangan kananku pada
telapak tangan kirinya, tapi tak tersentuh. Kami dibatasi sebuah kaca.
Aku dapat melihatnya dengan jelas, namun tidak lagi dapat menyentuhnya.
Dia bukan milikku lagi. Saat ini dan selamanya.
***
Aku
mencintai Artha. Aku sudah menyukainya sejak awal kami bertemu pada
ujian pendafaran masuk kampus sekitar tujuh tahun yang lalu. Artha tidak
terlalu tampan. Tapi juga tidak jelek. Dia memiliki sepasang bola mata
hitam kecoklatan, sepasang alis mata yang tidak terlalu tebal, hidung
yang tidak dapat dikatakan mancung, dan bibir tipis yang kemerahan.
Wajahnya yang oval dibingkai dengan rahang yang kokoh, dengan lesung
pipit di pipi kirinya jika dia tersenyum. Tubuhnya tinggi dengan pundak
yang lebar. Aku sangat, sangat, sangat terpesona padanya. Aku masih
ingat dengan jelas ketika pada ujian pendaftaran masuk itu, setengah jam
sebelum ujian berakhir aku baru sadar kalau jawaban yang kulingkari
dengan pensil 2B pada kertas jawabanku itu terlompat satu. Ada lima
puluh soal yang diujikan. Dan ketika aku sampai pada nomor terakhir di
kertas soal, aku baru menyadari kalau pada kertas jawabanku, aku baru
sampai pada nomor empat puluh sembilan. Setelah kuperiksa ulang, rupanya
aku melewatkan soal nomor sembilan, dan menuliskan jawaban nomor
sepuluh di soal menjadi nomor sembilan di kertas jawabanku, dan
seterusnya. Kurogoh-rogoh isi tasku mencari sebuah penghapus dan tidak
menemukan benda yang kucari di sana. Itu membuatku panik. Aku duduk
dengan gelisah sementara dahiku mulai berkeringat dingin. Aku tidak mau
kalau aku sampai tidak lulus ujian masuk karena hal konyol seperti ini.
Kulirik kanan kiriku dengan bingung. Aku sudah hampir menangis. Kemudian
tiba-tiba dari belakang, seseorang menyentuh pundakku. “Mau pinjam?”
tanyanya. Kulirik mata pengawas yang tertuju pada kami. Lalu secepat
kilat aku mengangguk seadanya dan mengambil penghapus itu dari
tangannya. Itulah pertama kalinya aku memperhatikannya. Oh, bukan
memperhatikan. Tepatnya, aku jatuh cinta padanya. Tuhan sungguh baik
padaku. Pertemuan kami tidak berakhir sampai di sana. Dia membiarkan
kami satu kelas, satu organisasi, dan yang terpenting, memiliki satu
perasaan yang sama. Empat bulan setelah awal pertemuan kami, Artha
memintaku menjadi pacarnya dan membuatku hampir pingsan karena terlalu
bahagia. Artha pacar pertamaku. Dan aku berharap dia juga akan menjadi
yang terakhir dalam hidupku. Sampai saat itu tiba. Saat hubunganku
dengan Artha yang nyaris empat tahun berakhir begitu saja ketika dia
memutuskan untuk pindah ke Jepang dan melanjutkan studinya di sana.
Tidak pernah ada lagi kabar yang kudengar dari Artha semenjak
kepergiannya. Dia seolah hilang ditelan bumi. Meninggalkanku sendirian
digulung kesedihan. Dua tahun kemudian aku bertemu Arga di perusahaan
yang bergerak di bidang pertambangan batu bara tempatku melamar
pekerjaan. Pertama kali melihatnya, aku seperti menemukan getaran yang
telah lama hilang di hatiku. Matanya sama jernih dengan mata Artha.
Senyumnya sama lembut dengan senyum Artha. Cintanya sama tulus dengan
cinta Artha yang dulu pernah singgah dalam hidupku. Kubiarkan Arga
mencuri tempat Artha dan menambal lubang yang menganga lebar di sana.
Juga membiarkan Arga melingkarkan cincin di jari manis kananku malam
ini. Aku menikah dengan Arga. Yang tidak pernah kusangka adalah aku akan
melihat Artha lagi. Setidaknya aku tidak pernah mengira akan bertemu
lagi dengan Artha pada malam ini. Malam pernikahanku. Malam di mana aku
dengan sah menjadi milik orang lain. Dunia ini sempit. Sangat sempit.
Teramat sempit sampai terasa nyaris menghimpit tubuhku. Ketika pandangan
mata kami bertabrakan, aku dapat membaca kesakitan maha dahsyat yang
menggemuruh di kedua bola matanya. Kesakitan yang aku tahu dia tidak
berpura-pura. Sepasang mata Artha yang masih sama dengan tiga tahun yang
lalu sebelum dia meninggalkanku. Aku hampir menjerit. Hampir berteriak
dan memeluk laki-laki yang kini sedang bergerak mendekat dan
menyalamiku. “Selamat ya.” katanya lirih. Suara yang setengah mati
kuimpikan selama tiga tahun ini. Tapi kekagetanku tidak berhenti sampai
di sana. Kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibir Artha, membuat
ulu hatiku begitu nyeri seakan dihantam dengan palu godam. “Kamu akan
menjadi kakak iparku yang paling cantik mulai malam ini.” ucapnya dengan
menguntai seulas senyum pahit. Mata Artha yang biasa selalu tersenyum
lembut, malam ini terlihat basah berkaca-kaca. Kutatap punggung Artha
yang bergerak menjauh, kemudian dengan segera kualihkan pandanganku dan
menatap Arga dengan pandangan tak percaya. “Kamu punya adik?” tanyaku
menahan sakit yang membuat mataku mulai terasa panas tergenang air mata.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku?” “Artha maksudmu?” Arga balas
bertanya padaku dengan lembut. “Dia adik satu ayah lain ibu denganku.
Aku hampir tidak pernah bertemu dengannya. Lagipula dia baru saja pulang
dari Jepang malam ini. Ayah yang memintanya untuk datang ke pestaku dan
menjemputnya dari bandara langsung kemari. Untung Ayah tidak terlambat
datang ke pesta kita.” Arga tertawa kecil. Tapi aku sudah tidak bisa
ikut tertawa lagi. Jawaban Arga membuatku terhenyak. Kugigit bibirku
kuat-kuat. Aku sungguh ingin berteriak. Aku ingin memanggil Artha untuk
kembali ke hadapanku. Tapi lidahku terasa kelu. Suaraku tercekat entah
di mana. Dan pada saat aku menemukan kembali suaraku, Arga telah
menggenggam tangan kananku dan meremasnya dengan penuh kehangatan. Aku
merasa tubuhku melemas. Aku tidak bisa mengkhianati Arga. Aku sendiri
yang telah memutuskan untuk memilih Arga. Aku harus belajar mencintainya
sebagaimana dia mencintaiku. Kuurungkan niatku dan membuang pandanganku
dari Arga, sekali lagi melihat Artha yang kini berdiri beberapa belas
meter di hadapanku sebelum akhirnya dia berpaling dan berlalu pergi dari
pestaku. Sekarang aku tahu pasti mengapa mata dan senyum Arga sama
persis dengan yang dimiliki Artha.
***
Aku
memutuskan untuk mengakui semuanya pada Arga. Kuceritakan semuanya pada
Arga mulai dari awal perkenalanku dengan Artha, betapa aku mencintainya,
dan betapa aku sangat bahagia menjalin hubungan dengannya selama itu,
serta merasa masih mencintainya sampai detik ini sekalipun aku telah
menikah. Aku sempat mengira Arga akan mengamuk dan menamparku
keras-keras di kamar pengantin kami malam itu. Tapi dia tidak
melakukannya. Dia malah memelukku erat-erat dan berbisik dengan lembut
di telingaku. Bisikan yang membuat tengkukku berdiri dan menangis begitu
terharu. “Artha akan kembali ke Jepang besok pagi. Temui dia yang
terakhir kalinya, Reyn. Supaya kamu dapat melepaskan masa lalumu dan
melangkah untuk masa depanmu.” Arga merenggangkan pelukannya. Kemudian
dengan gerakan yang sangat hati-hati, dia mengangkat daguku dan menatap
mataku dalam-dalam. Disekanya air mataku dengan sangat perlahan,
seakan-akan jika dia mencoba menyentuhku lebih kuat sedikit saja, aku
akan retak seperti porselen yang terbanting ke lantai. “Kamu tahu kenapa
kaca spion mobil lebih kecil dari kaca depannya?” tanyanya hangat.
“Karena Tuhan menginginkan manusia lebih sedikit melihat ke belakang dan
lebih banyak melihat ke depan, Reyn....” Untaian kalimat Arga yang
begitu tulus membuatku terisak-isak seperti orang gila. Separuh karena
merasa bersalah padanya, separuh lagi merasa bersalah pada Artha. Tapi
di saat seperti ini pun Arga tidak menghakimiku. Dia hanya membiarkanku
menangis dalam pelukannya hingga malam kian larut dan aku tertidur di
dadanya yang bidang.
***
Kulihat Artha
tersentak ketika melihat kehadiranku dan Arga di bandara pagi itu, namun
dengan segera dia mencoba menguasai dirinya. Arga mengucapkan salam
perpisahan singkat pada Artha dan pamit untuk ke kamar kecil sebentar.
Aku tahu Arga sengaja melakukannya dan memberikan waktu padaku untuk
berdua saja dengan Artha. “Sekali lagi, selamat ya.” ujar Artha
terbata-bata. “Aku yakin Arga orang yang sangat baik. Dia pasti akan
menjagamu lebih daripada dia menjaga dirinya sendiri.” “Kenapa tiga
tahun yang lalu kamu memutuskan pergi dan tidak pernah memberiku kabar
sama sekali?” tanyaku tanpa menggubris ucapannya. “Karena aku merasa
tidak pantas untukmu.” tukas Artha setelah diam sesaat dan kembali
membuatku merasa ada garam yang tertabur di lukaku yang belum sembuh.
“Kamu tahu pasti aku bukan terlahir dari keluarga berada. Dan ketika aku
tahu kalau ternyata ibuku hanya wanita yang dimadu, aku merasa
tertampar. Aku merasa hidup mendorongku hingga terjatuh ke jurang yang
paling dalam. Kemudian aku memutuskan pergi ke Jepang berkat beasiswa
yang kudapatkan dengan susah payah, berusaha memperbaiki hidup dan
menata hatiku di sana, sehingga ketika aku kembali nanti, aku bisa
memberikan kehidupan yang jauh lebih layak pada ibu... dan tadinya-
padamu juga.” Kukerjapkan mataku yang terasa perih. Sebisa mungkin
kutahan air mata yang mendesak keluar dari kedua mataku yang sembab.
“Tapi kurasa aku terlambat.” Bibir tipis Artha tersungging getir. “Kamu
sudah menemukan orang lain yang seribu bahkan sejuta kali lebih baik
dariku. Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang pernah kulakukan. Dia
akan menjagamu seumur hidupmu.” Aku mencari-cari kebohongan dan
kemarahan dalam setiap ucapan Artha dan tidak menemukannya. Dia tulus
mengatakannya. Dia ikhlas membiarkanku mengecap kebahagiaan dengan orang
lain. Ketulusan yang membuatku merasa kerdil dan egois telah
menyalahkannya selama ini. “Dulu, aku pernah mencintaimu. Sekarang pun
sama.” lanjut Artha sederhana. “Tapi dengan cinta yang berbeda. Aku akan
menghormatimu sebagai kakak iparku dan juga akan mengunjungimu setiap
kali ketika aku kembali ke Jakarta untuk menemui ibu.” Usai berucap
demikian, Artha menarik tangan kiriku dan meletakkan sesuatu di
tanganku. “Jangan buka tanganmu sebelum pesawatku tinggal landas.”
ucapnya pelan. Kugenggam benda pemberian Artha erat-erat sembari
mengikuti langkahnya yang akhirnya memisahkan kami dalam ruangan berbeda
karena pesawat yang ditumpanginya akan segera berangkat. Aku
memandangnya. Dia memandangku. Kukembangkan telapak tanganku. Dia juga.
Kutempelkan telapak tangan kananku pada telapak tangan kirinya, tapi tak
tersentuh. Kami dibatasi sebuah kaca. Aku dapat melihatnya dengan
jelas, namun tidak lagi dapat menyentuhnya. Dia bukan milikku lagi. Saat
ini dan selamanya. ***
Awan putih laksana gulali indah
yang menghias langit pagi itu. Seberkas cahaya dan sebuah pesawat yang
tampak seperti miniatur, menggores permukaan langit sejauh mataku
memandang. Dengan tangan yang gemetar hebat, kubuka tangan kiriku yang
terkepal memegang pemberian Artha tadi. Mataku terpaku pada sebuah benda
kecil di telapak tangan kiriku. Mungkin bukan benda yang istimewa bagi
orang lain. Tapi sangat berarti dalam hidupku. Sebuah penghapus. Air
mataku tumpah. Berlinang-linang.
***
“Kamu
tahu? Kita adalah pensil dan penghapus.” kata Artha seraya membelai
rambutku malam itu. Malam pertama ketika dia mengungkapkan perasaannya
padaku dan mengajakku makan malam berdua. “Pensil dan penghapus?”
Kutatap wajahnya dan menyatukan alisku dengan pandangan tak mengerti.
“Kamu pensilnya dan aku penghapusnya.” Artha tersenyum begitu lembut dan
hampir membuatku meleleh bahagia. “Setiap kali kamu membuat kesalahan,
aku yang akan membantumu untuk menghapus setiap kesalahan itu. Meskipun
setiap kali aku melakukannya, tubuhku akan terasa sakit dan bagian
tubuhku akan terus mengecil, aku bahagia melakukannya. Karena untuk
alasan itulah aku diciptakan. Aku diciptakan untuk selalu menjagamu. Aku
diciptakan untuk selalu menolongmu di setiap kesalahan yang kamu
lakukan dalam hidupmu. Sampai mungkin akhirnya aku akan menghilang dan
kamu akan menemukan yang baru sebagai penggantiku….”
***
Pikiranku
masih terseret pada kenangan masa lalu kalau saja bukan tepukan pelan
di kedua bahuku menarikku kembali ke alam nyata. Aku menoleh sekejab dan
mendapati Arga menatapku dengan penuh kasih sayang. Aku menarik nafas
dalam-dalam sampai paru-paruku terasa penuh. Kubalas tatapan Arga dengan
penuh rasa terima kasih yang tak mampu kuwujudkan dalam kata-kata. Arga
menggamit lenganku, kemudian membiarkanku mengikuti langkahnya. Jalanku
masih panjang. Kalau dulu aku pernah melakukan kesalahan, kupastikan
aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku akan terus melangkah.
Dengan Arga di sisiku. “Sekarang, kamu adalah pensil. Dan aku
penghapusnya….” gumamku tulus. Arga menoleh dan mengernyitkan keningnya.
“Setiap kali kamu membuat kesalahan, aku yang akan membantumu untuk
menghapus setiap kesalahan itu. Meskipun setiap kali aku melakukannya,
tubuhku akan terasa sakit dan bagian tubuhku akan terus mengecil, aku
bahagia melakukannya. Karena untuk alasan itulah aku diciptakan. Aku
diciptakan untuk selalu menjagamu. Aku diciptakan untuk selalu
menolongmu di setiap kesalahan yang kamu lakukan dalam hidupmu.”
Kuulang
setiap kata-kata yang dulu pernah Artha ucapkan padaku. Tapi aku tidak
mengutip kalimat terakhirnya. Aku tidak ingin Arga mencari penggantiku.
Karena mulai saat ini, aku tidak akan menghilang darinya.

