PELANGI DI MATA ELANG *2

“ Ya Allah, Bau parfum Damar!” Ujar Nayla tak percaya dia bisa mencium bau khas ‘mantan’ kekasihnya yang telah tiada itu. Bulu kuduk Nayla pun berdiri. Entah mengapa, jalanan mendadak sepi, tidak ada kendaraan yang lewat. Dan tiba-tiba angin bertiup lumayan kencang, sehingga menerbangkan dedaunan yang jatuh di sekitar Nayla. Suasana itu makin membuat Nayla merinding.
“ Damar, kamu ada di sini sayang?” Tanya Nayla memberanikan diri. Angin bertiup semakin kencang. Badan Nayla pun menjadi gemetar.
“ Sayang? Kamu ada di sini?” Tanya Nayla sekali lagi, walaupun dia juga tidak yakin akan mendapat sahutan atas pertanyaannya itu. Nayla menunduk, memejamkan matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Nafasnya pun terasa semakin memburu. Keringatnya mengucur deras. Dia bisa merasakan memang ada sesuatu yang lain di sekitarnya.

“ Nayla...” seseorang memanggilnya sambil menepuk pundaknya. Nayla pun tersentak kaget. Refleks dia langsung menghadap ke belakang.
“ Nay, ngapain kamu berdiri sendirian disini?” Tanya orang itu, rupanya itu Tiara.
“ Ya Ampun, Tiara.” Ujar Nayla lega. Detak jantungnya pun berangsur-angsur normal.
“ Kenapa kamu, Nay? Kenapa kamu keringetan dan ngos-ngosan kaya gitu? Terus kenapa tuh kakimu?” Tanya Tiara beruntun.
“ Damar…” Jawab Nayla ngawur, otaknya sibuk memikirkan kejadian barusan.
“ Hah Damar??” Tiara bingung.
“ Aku kangen Damar, Ti…” Jawab Nayla seraya memeluk Tiara dan menangis di pelukan sahabat karibnya itu.
*****

Sepulang sekolah, Nayla tidak langsung pulang ke rumah. Dia pergi ke suatu tempat. Tempat yang menurutnya bisa untuk mencurahkan kerinduannya pada Damar. Dia benar-benar sudah tidak bisa memendam kerinduannya pada Damar.

“ Damar sayang, ini aku datang. Aku kangen banget sama kamu, Sayang. Kangen banget. Aku merasakan kehampaan yang luar biasa menjalani hari-hariku tanpa kamu. Tanpa kamu yang biasanya setiap jam 3 dan 5 pagi selalu telpon untuk bangunin aku supaya Sholat Tahajud dan Sholat Subuh. Tanpa kamu yang biasanya setiap pagi selalu jemput aku untuk berangkat ke sekolah bareng. Tanpa kamu yang biasanya selalu ngambek kalo aku nggak mau makan. Tanpa kamu yang biasanya tega gebukin orang kalo orang itu iseng sama aku. . Tanpa kamu yang biasanya bawa aku ke taman dan ngelakuin hal aneh yang cuman kita yang punya. Tanpa kamu yang biasanya suka protes kalo rambutku berantakan dan kemudian nyisir dan ngiketin rambutku yang berantakan itu. Tanpa kamu yang biasanya rajin motongin kuku ku yang panjang dengan potongan kuku yang udah kamu jadiin gantungan tas kamu itu. Tanpa kamu yang biasanya menyediakan tanganmu untuk aku pukulin kalo aku lagi sebel dan menyediakan pundakmu kalo aku pengen nangis. Tanpa itu semua, Damar. Sekarang aku hidup tanpa itu semua!” Isak Nayla histeris di depan pusara ‘mantan’ kekasih tercintanya. Dia benar-benar sudah tidak bisa merasakan hal-hal kecil namun istimewa seperti itu semenjak meninggalnya Damar.

“ Aku pengen ikut kamu kesana! aku pengen disana sama kamu, Damar. Bawa aku kesana!” Nayla semakin histeris, tangisnya semakin menjadi-jadi. Dia memukul-mukul kuburan Damar dengan tangannya, lalu mengambil tanah yang ada di gundukan itu dan dia lempar-lemparkan ke arah lain. Nayla benar-benar terlihat seperti orang frustasi.

“ Heh! Berhenti berhenti! Gila kamu ya, anarkis banget!” Bentak seseorang sambil memegangi tangan Nayla. Nayla mendongakkan wajahnya, ingin tahu siapa orang itu.
“ Erlangga.” Pekik Nayla. Rupanya seseorang itu adalah Erlangga, Cowok Mata Elang. Entah bagaimana, dia bisa ada di situ.
“ Iya, kenapa? Kamu tu bener-bener gila ya, udah tadi pagi nyalip-nyalipin aku nggak jelas sampe jatuh kaya gitu, sekarang ngobrak-ngabrik kuburan orang, lagi. Gila!” Erlangga memarahi Nayla. Nayla memperhatikan Erlangga, lalu tanpa sadar, dia memeluk Erlangga, menangis di pelukan Erlangga. Erlangga bingung karena tiba-tiba di dipeluk oleh cewek itu sambil menangis histeris pula.

“ Aku kangen Damar! Aku kangen Damar! Aku mau ikut Damar aja!” Kata Nayla di pelukan Damar tersebut. Damar hanya diam, bingung harus berbuat apa. Setelah beberapa saat, Nayla sadar dia ada di pelukan cowok yang tidak dia kenal. Dia pun langsung melepaskan pelukannya itu.
“ Eh sorry sorry, nggak sadar tadi.” Ujar Nayla begitu dia sadar. Erlangga hanya mengangguk dengan muka bingung. Namun sesaat kemudian, Erlangga memegang tangan Nayla dan menariknya. “ Ayo ikut aku!”
“ Mau kemana?” tanya Nayla bingung di tarik paksa seperti itu.
“ Udah ngikut aja. Ayo naik.” Akhirnya Nayla pun naik ke motor Vixion Merah Erlangga, motor yang waktu itu mendesaknya sampai hampir jatuh.
*****

Nayla sekarang sudah sampai di atas sebuah jembatan tua yang sepi. Di bawah jembatan itu ada sungai yang jernih sekali airnya. Baru kali itu Nayla melihat ada sungai sejernih itu di jaman yang marak pencemaran ini.

“ Aku sebut ini Sungai Kaca Langit, karena kalo kita lihat ke sungai di bawah, kita bisa lihat betapa bagusnya langit di atas sana, lebih bagus daripada kalo kita langsung lihat ke atas.” Ujar Erlangga panjang lebar sambil memandang sungai dibawahnya itu. “Kalo aku badmood, aku suka ke tempat ini. Nah tadi aku lihat kamu lagi badmood dan kacau banget, jadi aku bawa aja kamu kesini.” Jelasnya.
“ Ooh gitu ya. Iya bener, tempat ini bagus. Suara air sungai dibawah itu menenangkan banget. Menghilangkan perasaan badmood. Makasih ya kamu udah bawa aku ke tempat ini.” Jawab Nayla sambil tersenyum ke arah Erlangga. Erlangga mengangguk dan membalas senyum Nayla. Benar-benar beda dengan Erlangga yang tadi pagi apalagi dengan Erlangga yang waktu itu, Erlangga yang ketus banget.
Mereka sama-sama larut dalam suasana itu. Mereka mengobrol tentang banyak hal, Termasuk tentang Damar. Erlangga bukan hanya berubah menjadi tidak ketus dan dingin lagi, tapi dia juga menjadi seseorang yang sangat menyenangkan, seorang pendengar yang baik pula. Nayla merasakan dirinya nyaman berada di dekat Erlangga.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada seekor Capung yang terbang di hadapan Nayla. Nayla kaget melihat capung itu. Capung yang ekornya diikat oleh sebuah benang putih dan di ujung benang putih itu di tempelkan secarik kertas berwarna merah.

“ Astaghfirullah!” Pekik Nayla kaget.
“ Kenapa, Nay?”
“ Ca..Capung Ngga. Capung…”
“ Nah terus kenapa, Nay? Ada apa dengan capung?”
“ DAMAR, NGGA!!!”


-----to be continued….
Please waiting for PELANGI DI MATA ELANG Part 3 :)

Pengikut