MAMAKU SAYANG MAMAKU REMPONG
Mamaku Sayang Mamaku Rempong
“Kem, udah nyampe mana?”
“Baru nyampek Semarang ma.”
Kamu nggak mabok darat kan?”
“Kan Kemal naek kereta ma. Kereta
kan jalannya cepat. Jadi kemungkinan buat mabok nggak ada. Kan mama sendiri
yang bilang”
“oh iya ya mama lupa. Udah dulu
ya, mama mau nganter adek kamu dulu. Kamu hati-hati ya, kalo ada yang
macem-macem sama kamu, kamu semprot aja sambal ABC yang tadi kamu bawa, terus
kamu kalo pipis jangan di celana, terus...”
“Ma, aku udah gede” Gue
menyadarkan nyokap yang mulai kesurupan.
Begitulah
kekhawatiran nyokap gue ketika anaknya akan pergi jauh. Bukan, bukan pergi jauh
buat selama-lamanya, tapi pergi jauh buat meniti ilmu. Nyokap gue adalah
sesosok ibu yang terlalu perhatian dan berlebihan dalam menunjukkan perhatian kepada
anak-anaknya.
Gue masih inget banget, dulu
sewaktu gue SMA, tepatnya sih kelas 1 SMA gue masih dibawain bekal dari rumah.
Sebenarnya sih nyokap punya tujuan yang baik, agar anaknya tetep sehat tetap
kenyang aman sentosa dan sejahtera. Tapi kan ahh, gue nggak bisa njelasin lagi.
Gue speechhless.

***
Udah 2 minggu gue sekolah di luar
kota. Dan tentunya nyokap gue udah telponin gue ribuan kali. Gue sempet mikir,
semakin tua umur kita, semakin juga kita ingin mandiri di mata orang tua kita.
Akhirnya gue berencana buat ganti
nomor handphone gue, tujuannya sih simpel gue pingin mandiri.
Akhir pekan ini
gue diajakin maen ke museum lukisan sama temen gue, Dito. Sebenarnya gue males
banget ke museum kayak gini. Mending gue tidur di kost-an. Tapi yah demi sesuap
bakso gue rela. Maklum, mental anak kost.
Setelah melihat
berbagai macam lukisan yang juga gue nggak terlalu ngerti, kami berhenti cukup
lama didepan lukisan besar yang menggambarkan ibu-ibu. Dito mangut-mangut
melihat lukisan tersebut.
Lalu dia bilang,
“ Lukisan ini terasa berat sekali ya, Kem.” Gue memandang Dito, lalu bilang “
Iya, buat ngangkat lukisan ini butuh 3 orang.”
“Ha? Bukan itu!
Aduh, jadi keinget sama ibu gue” raut muka Dito seketika berubah.
“Ibu lo? Tinggal
telpon aja kan?”
Kalau segampang itu,
gue bisa telpon dari kemarin”
Lho?”
Dia udah lama
nggak ada “ Dito menghela napas” meninggal waktu gue kecil”
Oh, maaf Dit”
kata gue, agak nggak enak karena abis ngeledekin.
Gue seolah
disadarkan, lukisan ibu-ibu tadi dan kenyataan yang Dito lontarkan membuka mata
gue bahwa jarak gue dengan nyokap hanya satu kali pencetan telepon. Sementara
jarak antara Dito dan ibunya sangat jauh. Mereka beda alam.
Dengan keadaan
sadar, gue ngambil handphone dan memencet nomor nyokap. Ketika telpon gue
diangkat, gue nggak mau nunggu lama, gue nyapa nyokap duluan “Ma, ini aku
Kemal.”
Gimana kabar
kamu? Kenapa akhir-akhir ini susah dihubungi? Kamu udah shalat?” nyokap
menyerang gue dengan pertanyaan-pertanyaan seorang ibu yang rindu dengan
anaknya.
Iya maaf ma,
kemarin aku sibuk banget”
Setelah ngobrol
cukup lama, telpon gue tutup. Gue punya pemikiran baru, semakin tua umur kita,
semakin ingin dekat dengan orang tua kita. Karena kemungkinan yang paling besar
adalah orang tua yang akan ninggalin kita duluan.
Gue nggak mau
suatu malam, setelah nyokap gue pergi, gue melihat handphone dan berpikir
seandainya gue bisa denger suara nyokap sekarang.
Sesungguhnya
terlalu perhatiannya orang tua kita adalah gangguan yang terbaik buat kita.
Nama : Fatma Agustina
Kelas : X-1
No : 15

