Gitu Aja Kok Takut,

Takut sudah menjadi sifat yang dimiliki oleh setiap orang,termasuk saya juga sih.Mustahil kalo ada orang yang bilang kalo dirinya bukan penakut.Buktinya waktu saya menyaksikan langsung acara syuting uya memang kuya di daerah Pluit seorang tukang parkir ketika dihipnotis dia tidak takut dengan apapun,tapi dia Cuma takut dengan kematian dirinya sendiri suatu saat nanti,Bagiku itu adalah jawaban yang konyol dan mencerminkan penakut seorang pecundang.Sudah jelas-jelas Al-Qur’an menjelaskan bahwa “setiap orang pasti akan kembali pada sang pencipta”.Jadi buat apa kita akan takut akan kematian kita ?



Sebagai pelajar,saya juga termasuk golongan orang yang penakut.Takut dimarahin guru karena gak ngerjain tugas atau terlambat datang ke sekolah,takut mendapat nilai jelek saat ulangan karena gak bisa nyontek,maklumlah saya duduk diantara orang yang kurang cakap dalam hal menyontek.Nah ini dia yang menjadi masalah para remaja.Sudah tau ada tugas kok bukannya dikerjakan malah facebookan,sudah tau sekolah masuk jam tujuh,kok jam setengah tujuh malah masih asik-asikan meluk guling dikamar,sudah tau besok waktunya ulangan fisika dan matematika kok bukannya belajar malah enak-enakan ngapelin pacar.



Mungkin ini semua uda jadi hukum alam.Masa sekolah adalah masa yang paling indah,gimana enggak coba ? la wong mau berangkat sekolah aja minta uang jajan,pamitan dan salaman.Pulang sekolah pun sudah tersedia masakan yang disajikan.



Kembali ke topik cerita masalah takut.Saya dulu termasuk pelajar yang pendiam dan takut dengan omelan guru.Tapi,penyakit itu akhirnya tersembuhkan dengan cara tidak sengaja.Awalnya ada seorang wanita yang menyindir ketika aku sedang mengambil motor ditempat penitipan.Dia bilang “kok ini cowok pendiem amat ya?gak asik banget”.Mendengar lontaran kalimat tersebut aku jadi terpikirkan untuk merubah sikapku yang satu ini.Tidak mudah untuk merubah sifat yang sudah melekat pada diri kita,asalkan dengan niat semua pasti bisa.Didunia tidak ada alasan untuk tidak bisa,semua bisa terpecahkan asalkan mau berusaha.Deal ?



Sifat jelekku yang kedua yaitu takut dengan omelan guru.Entah mengapa bisa begitu aku juga bingung.Tak perlu dipikirkan itu semua hanya masa lalu,cukup dikenang saja.Saya sangat berterima kasih kepada guru Bahasa Jawa ketika saya masih duduk dibangku kelas sembilan.Berkat beliau saya menjadi pelajar yang berani berbicara didepan guru.Misalnya kalo ketemu dengan guru sekarang saya mampu membawa dalam suasana canda dan tawa,maklumlah hati setiap manusia memang bisa dinetralisikan.Setiap perbincangan pasti membahas pelajaran,sosial,dan remidi.

Bicara soal love,guru selalu tertutup dengan siswanya,mungkin takut menyebar gosip yang tidak diinginkan.Tapi perlu diingat setiap berbicara dengan guru sebaiknya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik,santun,dan sopan,karena dengan percakapan yang baik pun guru atau orang lain yang kita ajak ngobrol pasti ikut hanyut dalam obrolan kita,sehingga kita menguasai pokok pembicaraan.

Pengikut